Minggu, 22 Maret 2026

Perjuangan Menyelesaikan Studi hingga Sarjana dengan Beasiswa Penuh

Petugas Pelaksana Tata Usaha Fakultas Farmasi UKWMS
Theresia Rani Setiowati Lestari, S.E.
Uang Tidak Punya, Kesempatan Tuhan Siapkan
oleh : Bill Halan
(Sumber : Totus Tuus UKWMS Vol. 2.33 Hlm. 5)


"Banyak orang tidak percaya kisah ini", itu kalimat pertama Theresia Rani Setiowati Lestari, S.E., ketika ia mengisahkan situasi keluarga dulu yang serba kekurangan. Untuk sekolahpun, Bu Rani, demikian ia disapa, merasa sudah bersyukur kalau sampai bisa lulus Sekolah Dasar. Ia tidak punya mimpi muluk-muluk karena ia tahu kondisi orang tuanya.

"Orang tua saya itu tekun, tetapi di tempat kerjanya tidak pernah naik karir. Ibu pernah menjadi HRD di Delta Plaza, tetapi dengan ijazah SMA, posisinya sedikit demi sedikit tersingkir dari mereka yang lulus S1. Kemudian ibu menjadi cleaning service. Sedangkan bapak menjadi tukang servis di rumah, kalau ada tetangga yang butuh bantuan, bapak bisa bantu", anak semata wayang ini melanjutkan ceritanya tentang pengalaman pertama meminta keringanan agar bisa mendapatkan beasiswa.

Menurut Bu Rani, meminta keringanan biaya sekolah itu butuh kesiapan hati karena ia harus terbuka menyampaikan kondisi keluarganya. Untuk pendidikan tingkat Sekolah Dasar, ia dan ibunya datang ke pengurus lingkungan dan memenuhi syarat dari paroki. "Yang penting tidak melewati standar yang sudah disiapkan pihak gereja", Bu Rani mengenang masa itu dengan penuh syukur.

Dengan menerima beasiswa, bukan berarti masalah keluarga selesai. Kebutuhan hidup selalu ada. Ibunya memutuskan untuk menjual nasi bungkus untuk dititipkan di beberapa warung. Tugas Rani kecil adalah mengantar nasi bungkus tersebut ke warung - warung saat ke sekolah dan mengambil kembali sisa nasi tersebut untuk makan mereka. "Kalau nasi itu habis, kita bingung mau senang apa sedih karena tidak ada persediaan makanan di rumah, kadang ibu tidak makan, yang penting saya bisa makan". Bu Rani juga menambahkan bahwa ibunya tidak pernah mengeluh menghadapi situasi seperti itu.

Pada usia yang masih sangat dini, Bu Rani paham bahwa sebagai penerima beasiswa ia harus bertanggung jawab terhadap pemberian itu. Tanggung jawab itu ditunjukkan dengan banyak cara, salah satunya dengan ketekunan dalam studi.

Di ujung pendidikan di kelas 6, Bu Rani masih mau melanjutkan pendidikan di SMP. Kali ini tantangannya lebih berat karena biaya sekolah lebih tinggi dari standar biaya untuk beasiswa yang ditetapkan dari gereja. Bu Rani melanjutkan pendidikannya di SMPK Santa Maria Surabaya. Ia bersama ibunya menghadap kepala sekolah untuk meminta keringanan biaya. Sekali lagi Bu Rani menahan rasa sungkannya demi satu tahap pendidikan yang lebih baik.

"Saya agak minder karena teman - teman datang dari keluarga mampu dengan kemmpuan dasar mereka sudah bagus, misalnya bahasa Inggris. Tetapi ibu bilang, di luar sana ada banyak orang yang tidak mendapat pendidikan yang baik walaupun mereka memiliki uang, kamu punya peluang", nasihat ibunya membuat Rani belajar tekun dengan usaha yang total, tidak setengah - setengah. Waktu terus berjalan dan ia mulai masuk kategori 10 besar kemudian 4 besar.

Tidak hanya sampai di situ, selain urusan akademik, ia juga aktif mengikuti kegiatan yang diselenggarakan sekolah, misalnya kalau ada rekoleksi atau kegiatan rohani lainnya, selalu ada perlombaan penulisan karya ilmiah terkait dengan pengalaman yang baru saja ia lewati. "Jadi karya tulis ini ditulis tangan dan biasanya tiga karya terbaik diberikan piala. Di kelas 2 dan 3 saya dapat piala itu", imbuh Bu Rani.

Pada usia yang masih sangat dini, Bu Rani paham bahwa sebagai penerima beasiswa ia harus bertanggung jawab. Tanggung jawab itu ditunjukkan dengan banyak cara, misalnya dengan ketekunan dalam studi dan aktif dalam kegiatan - kegiatan di sekolah dan paroki. Tanpa ia sadari, ketekunan ini diperhatikan oleh suster di sekolahnya. Rani yang masih bertanya - tanya tentang nasib dirinya sesudah SMP, kini mendapat jawaban yang istimewa. Suster kepala sekolah menginformasikan bahwa Rani bisa sekolah di SMAK Santa Maria tanpa biaya. Berkat Tuhan selalu tepat waktu.

Hal yang sama terjadi juga untuk tingkat pendidikan tinggi, walaupun istri dari Leonard Hanny Kurniawan Noweng memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan kuliah karena biaya kuliah pasti tinggi, jalan baginya selalu terbuka. Suatu ketika ada pameran pendidikan di SMAK Santa Maria. Bu Rani dan ibunya mendatangi booth dari UKWMS.

"Di brosur ada tulisan kecil sekali bagian bawah, beasiswa keuskupan. Ibu nemu tulisan itu. Lalu kita tanya, beasiswa full? Dua mahasiswa itu menjawab, iya, dengan catatan maksimal 4 tahun. Mulailah saya menghadap lagi pengurus lingkungan untuk urusan ini. Dia bosan juga". Bu Rani mengakui bahwa seleksi untuk beasiswa ini berat dan ia belajar menanti dengan penuh kesabaran. Keuskupan Surabaya memberi beasiswa kepada anak - anak yang benar - benar membutuhkan dan yang bertanggung jawab. Bu Rani satu di antara mereka yang dianggap layak menerima beasiswa ini.

Kini sesudah melewati tahap dalam kehidupan, ibu dari Anya Noweng dan Lintang Noweng selalu merasa terpanggil untuk memotivasi mahasiswa agar mereka tidak menyia - nyiakan kesempatan. "Tidak semua orang punya uang, tetapi kesempatan Tuhan siapkan. Bagi mereka yang sedang mendapat beasiswa, gunakan itu dengan penuh syukur dan buktikan bahwa kita bertanggung jawab".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar